RSS

BPD Teori Behavioristik



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Belajar juga bisa diartikan suatu proses yang berlangsung untuk memahami suatu hal. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan belajar dan memahami apa yang dipelajari, munculah teori-teori belajar. Banyak sekali teori belajar yang telah berkembang sejak dulu sampai sekarang.  Salah satu teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behavioristik) yang dikembangkan oleh psikolog asal Rusia yang bernama Ivan Pavlov pada tahun 1900-an, dengan teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan kemudian teori belajar ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikolog yang lain.
Teori belajar tingkah laku (behavioristik) ini bertujuan pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan dalam mendidik digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan bagi peserta didik. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas lebih jelas tentang teori belajar tingkah laku (behavioristik), teori belajar tingkah laku (behavioristik) menurut para ahli, implementasi teori belajar tingkah laku (behavioristik), serta kelebihan dan kekurangan teori belajar tingkah laku (behavioristik).

1.2  Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar tingkah laku (behavioristik)?
2.      Apa prinsip-prinsip dasar teori belajar tingkah laku (behavioristik)?
3.      Bagaimana pengimplementasian teori belajar tingkah laku (behavioristik) kepada peserta didik?

1.3  Tujuan
1.      Agar memahami apa yang dimaksud dengan teori belajar tingkah laku (behavioristik).
2.      Agar memahami prinsip-prinsip dasar teori belajar tingkah laku (behavioristik).
3.      Agar memahami bagaimana cara mengimplementasikan teori belajar tingkah laku (behavioristik) kepada peserta didik.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori belajar tingkah laku (behavioristik)
Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Teori belajar tingkah laku (behavioristik) memiliki tokoh-tokoh yang memprakarsai aliran behavioristik. Tokoh-tokoh aliran behavioristik adalah sebagai berikut:
§  Ivan Petrovitch Pavlov (1849-1936)
Ivan Petrovitch Pavlov memperkenalkan teorinya yang dikenal dengan nama Pengkondisian Klasikal (Classical Conditioning). Beberapa hukum yang berkaitan dengan teori pengkondisian klasikal (classical conditioning theory) dari Pavlov (Atkinson, et.al. 1997) adalah sebagai berikut.
a.       Pemerolehan
Pemberian stimulus yang tidak terkondisi (ST) bersama-sama dengan stimulus terkondisi (SD) disebut percobaan (trial) dan periode selama organisme belajar mengasosiasikan kedua stimuli disebut sebagai “pemerolehan pengkondisian” (acquisition stage of conditioning). Interval waktu penyajian ST dan SD dapat saja berbeda. Melalui penyajian ST dan SD ini akan mengakibatkan terbentuknya respon terkondisi (RD). Dengan terbentuknya RD yang memang diharapkan maka dapat dikatakan bahwa seseorang telah belajar. Pembentukan RD ini pada umumya bersifat gradual. Makin banyak (sering) diberikan ST dan SD akan mengakibatkan RD yang dibentuk makin mantap. Sampai pada suatu saat tanpa diberikan ST, tetap akan terbentuk RD yang diharapkan.
b.      Pemunahan (Extinction)
Bila perilaku terkondisi tidak diteruskan (dikuatkan) atau bila stimulus tidak terkondisi (ST) berulang-ulang tidak diberikan, maka respon terkondisi (RD) kadarnya makin menurun dan akhirnya dapat menghilang sama sekali. Pengulangan stimulus terkondisi (SD) tanpa penguatan (ST) ini disebut pemunahan (extinction), yakni proses hilangnya respon yang diharapkan. Jika diberikan ST kembali maka RD yang telah hilang dapat muncul kembali (spontaneous recovery) dalam waktu yang relatif singkat.
c.       Generalisasi
Bila respon terkondisi (RD) diperoleh sebagai tanggapan atas suatu stimulus tertentu, maka stimulus lain yang sejenis (serupa), akan menyebabkan terjadinya RD tersebut. Makin serupa stimulus baru tersebut dengan stimulus aslinya, makin tinggi pula kemungkinan terjadinya RD tersebut. Prinsip ini disebut sebagai generalisasi (generalization). Prinsip ini menerangkan akan adanya kemampuan untuk bereaksi pada situasi baru sepanjang stimulus serupa dengan stimulus yang dikenal.
d.      Diskriminasi
Diskriminasi merupakan reaksi terhadap stimulus yang berbeda. Menurut Morgan (1986), diskriminasi stimuli merupakan suatu proses belajar untuk memberikan respon terhadap suatu stimuli tertentu atau tidak memberikan respon sama sekali terhadap stimulus lain. Hal ini dapat diperoleh dengan cara memberikan ST lain.
Generalisasi dan diskriminasi muncul dalam perilaku sehari-hari. Anak kecil yang telah merasa takut pada anjing (generalisasi). Lambat laun melalui proses penguatan dan peniadaan diferensial, rentang stimulus rasa takut semakin menyempit, hanya pada anjing yang berperilaku galak (diskriminasi).
§  Edward Lee Thorndike (1874 - 1949)
Menurut Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Teori Thorndike ini sering disebut teori koneksionisme.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan. Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut, maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Selain itu, bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Menurut Thorndike terdapat tiga hukum belajar yang utama yaitu :
a.       The Law of Effect (Hukum Akibat)
Hukum akibat yaitu hubungan stimulus respon yang cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
b.      The Law of Exercise (Hukum Latihan)
Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Dalam hal ini, hukum latihan mengandung dua hal:
·         The Law of Use, hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan yang sifatnya lebih memperkuat hubungan itu.
·         The Law of Disue, hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut.
c.       The Law of Readiness (Hukum Kesiapan)
Hukum kesiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.  Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar merupakan suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.
§  Burrhus Frederic Skinner (1904 - 1990)
Konsep-konsep yang dikemukanan Skinner tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun lebih komprehensif. Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang dikemukakan oleh tokoh tokoh sebelumnya. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.
Oleh karena itu dalam memahami tingkah laku seseorang secara benar harus memahami hubungan antara stimulus yang satu dengan lainnya, serta memahami konsep yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin timbul akibat respon tersebut. Skinner juga mengemukakan bahwa dengan menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan menambah rumitnya masalah karena perlu penjelasan lagi.
§  John Watson (1878 - 1958)
Watson adalah seorang behavioris murni, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur. Menurut Watson, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon tersebut harus dapat diamati dan diukur. Jadi perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Pandangan utama Watson:
a.       Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dgn stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned
b.      Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.
c.       Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.
d.      Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
e.       Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
f.        Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
g.      Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain, sejauh smana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
h.      Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
i.        Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adlaah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

2.2 Prinsip-prinsip dasar teori belajar tingkah laku (behavioristik)
Teori belajar behavioristik memiliki prinsip-prinsip dasar yang perlu dipegang. Fungsinya agar pembelajaran secara behavioristik benar-benar bisa memperoleh hasil yang diharapkan. Menurut Berliner Gage, terdapat 6 prinsip pembelajaran behavioristik.  Prinsip-prinsip tersebut yaitu:

1.  Reinforcement and punishment
Prinsip menambahkan atau mengurangi rangsangan.  Sering juga dikenal sebagai positive and negative reinforcement.  Atau secara mudahnya adalah prinsip memberikan dan menghapus rangsangan.

2.  Primary and secondary reinforcement
Primary reinforcement adalah rangsangan berupa kebutuhan pokok manusia berupa makanan dan minuman serta kenyamanan. Sedangkan secondary reinforcement adalah rangsangan yang terpengaruh dari asosiasi seseorang.




3.  Schedules of reinforcement
Prinsip mengenai pemberian rangsangan/stimulus secara terjadwal.  Dengan pemberian rangsangan yang terjadwal maka respon juga bisa diketahui pengaruhnya.

4.  Contingency management
Contingency management merupakan prinsip yang berhubungan dengan kesehatan mental seseorang. Contingency management digunakan untuk memberikan perawatan kejiwaan kepada seseorang.

5.  Stimulus Control in Operant Learning
Stimulus Control in Operant Learning adalah prinsip mengendalikan rangsangan untuk menghasilkan perilaku yang diharapkan.  Stimulus yang tidak terkendali akan menghasilkan perilaku output yang tidak sesuai.

6.  The Elimination of Responses
Merupakan prinsip penghapusan perilaku yang tidak diinginkan. Terkadang perilaku yang tidak diharapkan muncul.  Oleh karena itu perilaku-perilaku tertentu sebagai sebagai output perlu dihilangkan.


2.3 Pengimplementasian teori belajar tingkah laku (behavioristik)
2.3.1    Teori Pengkondisian Klasikal (Classical Conditioning Theory) dari Pavlov

      Dalam lingkup pemerolehan bahasa pertama, classical conditioning ini dapat menjelaskan bagaimana kita belajar makna kata. Seperti diketahui dalam lingkungan banyak rangsangan yang dapat menimbulkan emosi positif atau negatif. Jika rangsangan-rangsangan bahasa, misalnya kata, frasa, atau kalimat, sering terjadi bersamaan dengan rangsangan-rangsangan lingkungan, maka pada akhirnya rangsangan bahasa tersebut dapat menimbulkan respon emosional walaupun tidak ada rangsangan lingkungan.
      Contohnya, Yudi yang berumur sekitar 15 bulan akan menarik taplak meja makan. Ibunya segera mengatakan, “Tidak! Tidak!” sambil menepis tangannya dengan harapan Yudi akan menghubungkan sakit di tangannya dengan kata “Tidak! Tidak!” akan menimbulkan respon makna yang tidak menyenangkan bagi Yudi. Jika hal ini terjadi berulang kali dan respon emosional sudah ditransferkan dari hukuman fisik ke ujaran “Tidak! Tidak!”, maka pembiasaan telah berhasil. Jadi, kata “Tidak” menghasilkan respon emosional, sama halnya dengan bunyi bel menimbulkan respon air liur. Dengan demikian, ibu tersebut telah berhasil mengajarkan makna “Tidak”. Dengan kata lain, Yudi memahami makna “Tidak” yang berarti suatu larangan.

2.3.2    Teori Koneksionisme (Connectionism Theory) dari Thorndike
      Menurut Thorndike, perubahan tingkah laku dapat berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang nonkonkret (tidak bisa diamati). Di dalam belajar praktik misalnya, perubahan tingkah laku seseorang dapat dilihat secara konkret atau dapat diamati. Pengamatan ini dapat diwujudkan dalam bentuk gerakan yang dilakukan terhadap suatu objek yang dikerjaakannya. Seorang guru memberikan perintah kepada siswa untuk melakukan kegiatan praktik merupakan ”stimulus” dan siswa dengan menggunakan pemikirannya, melakukan kegiatan praktik merupakan ”respon” yang hasilnya langsung dapat diamati. Dengan demikian, kegiatan belajar yang tampak dalam teori belajar tingkah laku dalam pandangan Thorndike mengarah pada hasil langsung belajar, atau tingkah laku yang ditampilkan.
Sebagai contoh lain, siswa yang tidak mau mendengarkan pelajaran, stimulus yang diberikan oleh guru berupa latihan dengan titik fokus pada anak tersebut secara berulang-ulang dengan memberikan tugas secara klasikal dan anak tersebut mengerjakan di depan kelas dalam keadaan siap. Hasil memuaskan dapat diperoleh dengan reward pujian dari guru dapat menghasilkan respon yang baik dari anak tersebut, sedangkan untuk siswa yang hanya ingin bermain di kelas, guru dapat membuat pembelajaran matematika sebagai arena bermain dengan melibatkan operasi hitung penjumlahan menggunakan benda konkrit sebagai bahan penjumlahan dan pengurangan, guru dapat mencoba berbagai cara untuk melakukan penghitungan secara klasikal sampai akhirnya anak tersebut mampu melakukan operasi hitung secara teori.

2.3.3    Teori Pengkondisian Operan (Operant Conditioning Theory) dari B.F.    Skinner
      Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.
Guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner. Dalam menerapkan teori Skinner, guru perlu memperhatikan dua hal yang penting, yaitu pemilihan stimulus yang diskriminatif dan penggunaan penguatan.
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori pengkondisian operan sebagai berikut:
  1. Kesatu, mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi.
  2. Kedua, membuat daftar penguat positif. Guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang kena hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat jadi penguat.
  3. Ketiga, memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya.
  4. Keempat, membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi perilaku selanjutny.


















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
1.    Teori Behavioristik merupakan sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
2.                   Teori belajar behavioristik memiliki prinsip-prinsip dasar yaitu:

1.  Reinforcement and punishment
2.  Primary and secondary reinforcement.
3.  Schedules of reinforcement
4.  Contingency management
5.  Stimulus Control in Operant Learning
6.  The Elimination of Responses
3. Pengimplementasian teori belajar tingkah laku (behavioristik)
a.       Teori Pengkondisian Klasikal (Classical Conditioning Theory) dari Pavlov
b.      Teori Koneksionisme (Connectionism Theory) dari Thorndike
c.       Teori Pengkondisian Operan (Operant Conditioning Theory) dari B.F.    Skinner


3.2  Saran
Sebaiknya dalam pembuatan makalah ini diperlukan banyak refrensi, sehingga menambah kreatifitas dan keragaman materi yang dibahas. untuk itu dalam penyusunan selanjutnua diharapkan bisa lebih baik lagi.





DAFTAR PUSTAKA

Dahar, Ratna Wilis.1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Dimyati & Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Pratama, Aidhil . Teori Belajar Behavioristik : Penerapannya dalam Pembelajaran. (file:///H:/BelajardanPembelajaran/TeoriBelajarBehavioristikPenerapannyadalamPembelajaranLompo_Ulu.htm) diakses tanggal 22 Februari 2014

Ratumanan, Tanwey Gerson.2002. Belajar dan  Pembelajaran. Ambon: Unesa University Press.
Slameto.2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT Rineka Cipta.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar